Sampaikah Fikri dan Rahima bersua di kemudian hari ataukah pemuda malang
itu hanya bertepuk sebelah tangan? Simak kelanjutan kisah yang
mengharu-biru perasaan ini, dan menguras air mata dalam setiap babnya…[]
[Dapatkan Novel “Rinai Kabut Singgalang” edisi terbaru lewat Penerbit
FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
dengan menghubungi nomor pemesanan buku:
0812 5982 1511 (Mbak
Aliya Nurlela) atau lewat email: forumaktifmenulis@yahoo.com. Kunjungi
juga blog http://www.rinaikabutsinggalang.blogspot.com
Buku Terbitan FAM Publishing. Buku kedua diterbitkan FAM Indonesia,
“Rinai Kabut Singgalang”. Novel Karya
Muhammad Subhan.
Harga Rp65.000,- (di luar ongkos kirim).
Pemesanan di No Hp.
0812 5982 1511.
T e s t i m o n i :
Maimunah dicoret dari ranji silsilah keluarga besarnya. Dia nekad
menikah dengan Munaf, laki-laki asal Aceh. Perbuatannya itu membuat
orangtuanya berkalang malu, sakit-sakitan, lalu meninggal dunia. Safri,
kakak kandungnya mengalami gangguan jiwa, kemudian tewas dibunuh pemuda
kampung. Fikri, putranya merantau ke Padang, jatuh cinta kepada Rahima,
putri ibu angkatnya. Ningsih, kakak Rahima menolak pinangan Fikri.
Rahima dinikahkan dengan orang lain di Jakarta.
Ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh,
Fikri pulang menjadi relawan, mencari keluarga adiknya, Annisa. Ternyata
Annisa tewas dilamun tsunami. Fikri kehilangan keluarganya. Di Padang
ia pun kehilangan cintanya. Belakangan, Fikri mendengar kabar, Ningsih
menjodohkan Rahima dengan laki-laki lain ternyata atas dasar utang budi.
Kisah romantis yang menggugah kearifan lokal. Bollywood rasa Minang.
~
Abidah el Khalieqy, Penulis Cerita Film Perempuan Berkalung Sorban.
Kedalaman galian Rinai Kabut Singgalang, sesungguhnya dapat ditandai
dengan upaya Muhammad Subhan dalam mempertahankan identitas roman
berlatar alam Minangkabau yang belakangan mulai diabaikan.
~
Damhuri Muhammad, Esais, Cerpenis.
Novel ini mengingatkanku pada karya para Pujangga Baru, mellow,
romantis, mengharu biru kalbu. Bedanya ini ditambah dengan konflik,
heroik dan nestapa anak manusia di belahan Aceh, tragedi kemanusiaan
yang hingga detik inipun tak terungkap dengan transparan.
~
Pipiet Senja, Novelis.
Syarat sebuah novel adalah adanya konflik. Muhammad Subhan mampu
membangun konflik yang kuat dengan bahasa yang sederhana, mudah
dipahami, hingga jalinan cerita mengalir bening. RKS mampu menerbitkan
rasa penasaran untuk mengikuti cerita selanjutnya. Satu lagi yang
memperkuat novel ini adalah setting, dan tradisi budayanya. Kearifan
lokal dalam novel memang senantiasa mencipta aroma eksotik.
~
Dianing Widya Yudhistira, Novelis, tinggal di Jakarta.
Alam Minangkabau cukup terekam dalam novel ini. Gaya bercerita
pengarang yang merangkum peristiwa tersusun rapi, membuat pembaca tetap
terikat. “Modal yang baik buat pengarang.” ~
Aspar Paturusi, Novelis & Aktor Film Ketika Cinta Bertasbih 2, tinggal di Jakarta.
Kalaulah ada yang hendak mengambil contoh tauladan yang baik, maka
tokoh utama dalam novel inilah yang patut ditiru. RKS sarat dengan
pesan-pesan moral yang bertebaran kata nasihat agama. ~
Arafat Nur, Pemenang Unggulan Sayembara Novel DKJ 2010, tinggal di Lhokseumawe, Aceh.
Menikmati RKS, pengarang dengan cerdas mengelompokkan kata dalam
latar, alur, dan konflik melalui para tokoh yang dihadirkannya.
Sesungguhnya bila ditelisik lebih jauh, segala peristiwa merupakan
realitas diri pengarang yang ditemuinya dalam lingkungan berkehidupan.
Peristiwa inilah yang disebut realitas sastra. Kecerdasan novelis meramu
tiga dimensi sastrawi; estetika-etika-logika yang ditransformasikannya
sebagai medium pendidikan dan moralitas bagi pembaca. Ini yang membuat
RKS berkualitas. ~
Sulaiman Juned, Penyair, Kolumnis, Sutradara Teater, Dosen, tinggal di Padangpanjang, Sumatra Barat.
Rinai Kabut Singgalang mengingatkan kita pada roman-roman klasik
Indonesia yang mengharu-biru dan sarat dengan pesan moral. Disaat
penulis lain menyajikan kisah dengan cita rasa Barat, Muhammad Subhan
kembali ke akarnya; sastra Melayu.
~
Ayi Jufridar, Penulis Novel Putroe Neng, tinggal di Lhokseumawe, Aceh.
Lebih dari sekedar romantisme kejayaan sastrawan Minangkabau,
utamanya pada era Balai Pustaka, RKS menghadirkan kekhasan dan
nilai-nilai etis-etnik Minang, dengan kelancaran berselancar di atas
alur kisah dan tukikan emosi, kadang landai kadang curam. Tentunya
dengan nuansa baru.
~
Muhammad Nasrudin, Editor, Pegiat Buku, tinggal di Yogyakarta.
Roman eksotis-romantis ini tak jemu mengajak saya hanyut seturut
panorama alam nan elok dari negeri bernama Minangkabau. Pengarang cukup
lihai meracik keelokan alam yang berkelok-kelok naik turun
“disebangunkan” dengan kelokan ketegangan-ketegangan di dalam kisahnya.
Asmara yang mengharu-biru. Betapa serunut “adat” asmara tak memiliki
setitik pun kuasa, melawannya alamat menuai derita tak tertanggungkan.
Pengusiran, cerai persaudaraan, stigma buruk, bahkan dituduh sebagai
penyebab kematian orang-orang yang ditinggalkan. RKS mengajak pembaca
menikmati hingga tanda titik paling akhir dari cerita ini.
~
Akhiriyati Sundari, Ketua Komunitas MATAPENA, tinggal di Yogyakarta.
Rasa Minang hadir dalam kisah perkisah RKS. Pengarangnya mengingatkan
kita pada roman-roman karangan Hamka. Kisah yang mengharubirukan
perasaan. Bahasanya halus, pengarang berhasil mendeskripsikan perasaan
yang mendalam para tokohnya, hingga tak dinyana pembaca bagai
dihanyutkan oleh tragedi cinta yang amat sentimentil, tragis, dan
berurai air mata.
~
Irzen Hawer, Novelis, tinggal di Padangpanjang, Sumatera Barat.
Berbeda dengan novel-novel terbaru yang ada saat ini, RKS menarik
perhatian pembaca dengan gaya bahasa dan gaya penceritaan novel klasik
(roman) yang pernah berjaya di masa lalu. Sesuatu yang rasanya tidak
mungkin dilakukan oleh penulis yang lahir dan hidup pada masa sekarang,
seperti halnya Muhammad Subhan.
~
Elly Delfia, Dosen Sastra Universitas Andalas, tinggal di Padang.
Di saat banyak judul novel dengan latar belakang Timur Tengah,
Muhammad Subhan malah tampil manis dan indah dengan latar belakang
budaya asli Indonesia dengan judul novel Rinai Kabut Singgalang.
~
Fitri Dahlia, Jurnalis dan Cerpenis, tinggal di Jakarta.
Membaca Rinai Kabut Singgalang, serasa mengintip luka yang sulit
terbasuhkan. Kemana pun, dimana pun, seakan tiada jarak antara kehidupan
dan luka. Bahkan, ketika cinta yang indah dan penuh makna, pada
akhirnya tercerabut oleh iri dengki karena berharap materi dan
ketinggian adat yang tak bisa dipugar. RKS berhasil meneropong realitas
sosial dan alam Minang yang memesona namun sekaligus terasa
menggetirkan.
~
Halim Mubary, Cerpenis, Jurnalis dan Esais, tinggal di Lhokseumawe, Aceh Utara.
Rinai Kabut Singgalang mampu membawa saya hanyut ke dalam kisahnya dan saya merasa sangat dekat dengan kisah tersebut.
~
Tuti Handriani, pembaca RKS di Palembang.
Dalam bab per babnya banyak menanamkan nilai-nilai luhur yang dapat
dijadikan sebagai pelajaran. Latar cerita sangat mendukung dan alur yang
tidak mudah membuat pembaca bosan.
~
Tiara Mairani, pembaca RKS di Padang.
Muhammad Subhan.